Earnings Management

Dalam sebuah institusi atau organisasi pasti terdapat sejumlah kepentingan yang ingin dicapai oleh para pemegang kepentingan (stakeholders). Setiap kepentingan yang ada tersebut berbeda satu dengan lainnya dan berkaitan dengan kedudukan atau posisi dari masing-masing stakeholders. Perbedaan kepentingan yang terdapat dalam organisasi tersebut dapat menimbulkan konflik kepentingan (conflict of interest) antara masing-masing pihak.

Konflik kepentingan tersebut merupakan bukti dari teori agensi. Teori agensi merupakan teori yang menyatakan bahwa kepentingan dari principal atau pemilik perusahaan berbeda dengan agent atau pengelola perusahaan. Perbedaan tersebut dapat menimbulkan adanya earning management atau manajemen laba yang dilakukan oleh manajer untuk memenuhi kepentingan pribadinya.

Menurut Healy dan Wahlen (1999) earning management atau manajemen laba terjadi ketika pihak eksekutif menggunakan keputusan dalam pelaporan keuangan dan menetapkan transaksi dengan tujuan mengubah laporan keuangan untuk menyesatkan beberapa stakeholder atau pemegang kepentingan perusahaan mengenai hal-hal yang mendasari kinerja ekonomi perusahaan atau untuk mempengaruhi hasil perjanjian yang bergantung pada angka yang terdapat dalam laporan keuangan.

Pihak eksekutif dapat menggunakan manajemen laba untuk menyampaikan beberapa informasi bermanfaat yang mereka ketahui seperti kinerja perusahaan kepada stakeholders. Jika seperti itu manajemen laba tidak akan membahayakan bagi pemegang saham dan publik pada umumnya. Di lain pihak, eksekutif dapat mengatur laba untuk kepentingan pribadi dibandingkan untuk kepentingan stakeholders (Hamdi dan Zarai, 2013).

Laurence et al. (2009) pada Hamdi dan Zarai (2013) menyatakan seringkali publik menyoroti perilaku yang dilakukan oleh pengelola perusahaan yang dapat dikategorikan sebagai perbuatan yang menguntungkan diri sendiri, tidak bermoral, atau bahkan tindak kriminal. Contohnya yaitu seperti pada kasus Adelphia, Enron, Xerox, AOL, Time Warner, WorldCom, Reliant Energy, Tyco International, dan sebagainya. Grullon et al. (2009) menyatakan ketakukan akan pengungkapan serta ancaman hukum membantu untuk mengurangi tindakan seperti itu. Mekanisme tambahan dapat digunakan untuk mengendalikannya yaitu seperti etika dan moral di lingkungan tempat kegiatan operasional ekonomi.

Earning management atau manajemen laba yang dilakukan oleh perusahaan tidak selalu merugikan dan berbahaya bagi stakeholder. Namun bukan tidak mungkin pihak eksekutif atau manajer perusahaan melakukan manajemen laba untuk kepentingan dan keuntungan pribadinya semata.

Konsep dari manajemen laba menggunakan teori agensi dimana praktik manajemen laba dipengaruhi oleh konflik kepentingan yang terjadi antara manajemen (agent) dan pemilik (principal), yang timbul karena masing-masing pihak memiliki kepentingan sendiri-sendiri dalam mencapai tingkat kemakmuran (Pradipta, 2011).

Xie et al. (2003) menyatakan bahwa konflik agensi terjadi ketika manajer (agent) melakukan tindakan oportunistik, seperti manajemen laba, untuk memaksimalkan kepentingan pribadi mereka. Tindakan manajerial tersebut dapat menyesatkan pemegang kepentingan mengenai nilai pasar dan posisi keuangan, serta menyebabkan pihak luar membuat keputusan ekonomi yang salah.

Assih dan Gudono (2000) menyatakan bahwa manajemen laba merupakan perilaku yang rasional berdasarkan pada asumsi teori akuntansi positif dimana manajemen adalah individual rasional yang mementingkan kepentingan pribadi. Kecenderungan manajer dalam memperhatikan kepentingan pribadi tersebut mendorong manajer untuk melakukan manajemen laba.

Copeland (1968) mendefinisikan manajemen laba sebagai usaha dari manajemen untuk memaksimalkan atau meniminalkan laba yang dilaporkan sesuai dengan keinginan manajemen. Manajemen laba dapat menyebabkan timbulnya masalah keagenan karena adanya pemisahan peran serta perbedaan kepentingan antara pemilik dan manajer perusahaan. Manajer sebagai pengelola perusahaan mengetahui informasi lebih banyak dan lebih dahulu dibandingkan pemilik yang menyebabkan kesenjangan informasi sehingga memungkinkan manajer melakukan praktik manajemen laba untuk tujuan tertentu.

Seperti yang dinyatakan oleh Healy dan Wahlen (1999), “untuk menyesatkan beberapa stakeholder atau pemegang kepentingan perusahaan” atau “untuk mempengaruhi hasil perjanjian” menekankan pada perilaku oportunistik dari manajer. Perilaku tersebut tidak bermoral dan dilarang dalam Islam. Islam menganjurkan penganutnya untuk berbisnis tapi juga mewajibkannya untuk bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari yang sesuai dengan perintah Allah seperti beribadah kepada-Nya.

Untuk menganalogikan dengan teori agensi, Allah adalah principal dan umatnya adalah agent. Bagaimanapun, hubungan agensi tersebut tidak akan mengandung unsur egoisme dari agent sebagai bentuk ibadahnya kepada Allah, dan memiliki kepercayaan penuh pada principal (Hamdi dan Zarai, 2013).

Healy dan Palepu (1993) menyatakan terdapat tiga kondisi menyebabkan komunikasi melalui laporan keuangan tidak sempurna dan tidak transparan, antara lain:

  1. Manajer memiliki informasi lebih banyak mengenai pengelolaan strategi dan operasional bisnis dibandingkan dengan investor.
  2. Terdapat perbedaan kepentingan antara manajer dengan investor.
  3. Kurang sempurnanya aturan akuntansi dan audit.

Rahmawati dan Baridwan (2006) dalam Wahyono et al. (2013) menyatakan bahwa industri perbankan mempunyai regulasi yang lebih ketat dibandingkan dengan jenis industri lain.  Bank harus memenuhi kriteria CAR (Capital Adequacy Ratio) minimum yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Bank Indonesia menggunakan laporan keuangan bank sebagai dasar penilaian kesehatan bank. Oleh karena itu, manajer memiliki insentif untuk melakukan manajemen laba agar bank dapat memenuhi kriteria tersebut.

Terdapat beberapa faktor yang mendorong manajer untuk melakukan praktik manajemen laba menurut Scott (2009) dalam Wahyono et al. (2013), antara lain:

  1. Kontrak Bonus

Seringkali laba digunakan sebagai indikator dalam menilai prestasi manajer dalam sebuah perusahaan. Sehingga menyebabkan manajer terdorong untuk melakukan manipulasi laba apabila laba yang diperoleh berada di bawah target. Hal ini dilakukan agar manajer dapat memperoleh bonus yang maksimal untuk periode yang akan datang.

  1. Stock Price Effect

Manajer melakukan praktik manajemen laba dalam laporan keuangan perusahaan dengan tujuan untuk mempengaruhi pasar.

  1. Faktor Politik

Manipulasi laba dengan cara menurunkan laba yang diperoleh perusahaan juga dapat dilakukan untuk mengurangi biaya politis dan pengawasan dari pemerintah agar memperoleh kemudahan serta fasilitas dari pemerintah.

  1. Faktor Pajak

Jika terjadi kenaikan harga akibat inflasi, penggunaan metode LIFO akan menghasilkan laba yang dilaporkan menjadi lebih rendah dan pajak yang harus dibayarkan juga menjadi lebih rendah. Sehingga manajer berusaha untuk mengurangi beban pajak yang dikenakan pada perusahaan dengan cara mengurangi laba.

  1. Penawaran Saham Perdana (IPO)

Sebagian besar perusahaan yang akan melakukan penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) melakukan praktik manajemen laba pada periode terakhir sebelum IPO. Saat perusahaan go public, maka informasi keuangan merupakan sumber informasi yang penting dan utama. Informasi tersebut digunakan untuk mempengaruhi calon investor mengenai nilai perusahaan, sehingga manajer berusaha menaikkan laba yang dilaporkan untuk memperoleh harga saham yang tinggi saat IPO.

Menurut Setiawati dan Na’im (2000) dalam Wahyono et al. (2013), terdapat tiga teknik yang dapat digunakan dalam praktik manajemen laba, yaitu:

  1. Memanfaatkan peluang atau kebijakan untuk membuat estimasi akuntansi.

Manajemen mempengaruhi laba dengan menggunakan estimasi akuntansi seperti estimasi tingkat piutang tak tertagih, estimasi jangka waktu depresiasi aktiva tetap atau amortisasi aktiva tak berwujud, dan sebagainya untuk mempengaruhi laporan keuangan.

  1. Mengubah metode akuntansi.

Untuk menaikkan maupun menurunkan laba, dapat dilakukan dengan cara menggunakan metode akuntansi yang berbeda dari periode sebelumnya. Contohnya seperti mengubah metode depresiasi aktiva tetap dari metode depresiasi angka tahun menjadi metode depresiasi garis lurus, atau mengubah metode perhitungan persediaan dari metode LIFO menjadi FIFO, ataupun sebaliknya.

  1. Menggeser periode biaya dan pendapatan.

Banyak cara untuk menggeser periode biaya dan pendapatan. Contohnya seperti mempercepat atau menunda pengeluaran untuk penelitian dan pengembangan hinga periode akuntansi berikutnya, mempercepat atau menunda pengeluaran promosi hingga periode berikutnya, mempercepat atau menunda pengiriman produk pada pelanggan, mengatur waktu penjualan aktiva tetap tidak terpakai, dan sebagainya.

Pola yang dapat dilakukan dalam praktik manajemen laba menurut Scott (2009) dalam Wahyono et al. (2013) antara lain:

  1. Taking a Bath

Terjadi pada saat reorganisasi, seperti pengangkatan CEO baru. Teknik ini mengakui adanya biaya-biaya pada periode yang akan datang dan kerugian periode berjalan dan mengharuskan manajemen membebankan perkiraan-perkiraan biaya mendatang sehingga laba periode berikutnya akan lebih tinggi.

  1. Income Minimalization

Dilakukan jika perusahaan mengalami peningkatan laba sehingga apabila diperkirakan laba periode berikutnya akan menurun dapat diatasi dengan mengambil laba pada periode sebelumnya.

  1. Income Maximization

Dilakukan jika perusahaan mengalami penurunan laba. Tujuannya yaitu untuk melaporkan net income yang tinggi agar memperoleh bonus yang lebih besar. Pola ini dilakukan oleh perusahaan untuk menghindari pelanggaran atas kontrak utang jangka panjang.

  1. Income Smoothing

Dilakukan dengan cara meratakan laba yang dilaporkan untuk mengurangi fluktuasi laba yang terlalu besar. Hal ini disebabkan pada umumnya investor lebih menyukai laba yang relatif stabil.

  1. Offsetting Extraordinary / Unusual Gains

Dilakukan dengan cara memindahkan efek-efek laba yang tidak biasa atau temporal yang berlawanan dengan tren laba.

  1. Aggressive Accounting Applications

Teknik yang diartikan sebagai salah saji (misstatement) dan digunakan untuk membagi laba antar periode.

  1. Timing Revenue and Expense Recognition

Teknik ini dilakukan denga cara membuat kebijakan tertentu yang berhubungan dengan waktu dari suatu transaksi. Contohnya pengakuan prematur atas pendapatan.

Utami (2005) menyatakan untuk mendeteksi praktik manajemen laba dapat dilakukan dengan pengukuran atas akrual. Total akrual dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu:

  1. Non discretionary accruals; bagian akrual yang wajar terdapat dalam proses penyusunan laporan keuangan (normal accruals).
  2. Discretionary accruals; bagian akrual yang merupakan manipulasi data akuntansi (abnormal accruals).

Contoh kasus manajemen laba yang terjadi di Indonesia yaitu kasus manajemen laba yang dilakukan oleh pihak manajemen PT. Kimia Farma Tbk. pada tahun 2001. Pada audit tanggal 31 Desember 2001, manajemen PT. Kimia Farma Tbk. melaporkan adanya laba bersih sebesar Rp 132 milyar, dan laporan tersebut di audit oleh Hans Tuanakotta dan Mustofa. Namun Kementerian BUMN dan Bapepam menilai bahwa laba bersih tersebut terlalu besar dan mengandung unsur rekayasa. Setelah dilakukan audit ulang, pada 3 Oktober 2002 laporan keuangan PT. Kimia Farma Tbk. 2001 disajikan kembali (restated), karena telah ditemukan kesalahan yang cukup mendasar. Pada laporan keuangan yang baru, keuntungan yang disajikan hanya sebesar Rp 99,56 miliar, atau lebih rendah sebesar Rp 32,6 milyar.

Kesalahan-kesalahan penyajian tersebut dilakukan oleh direksi periode 1998 – Juni 2002 dengan membuat dua daftar harga persediaan yang berbeda, masing-masing diterbitkan pada tanggal 1 Februari 2002 dan 3 Februari 2002, dimana keduanya merupakan master price yang telah diotorisasi oleh pihak yang berwenang yaitu Direktur Produksi PT. Kimia Farma Tbk. Master price per 3 Februari 2002 merupakan master price yang telah disesuaikan nilainya (mark up) dan dijadikan dasar sebagai penentuan nilai persediaan pada unit distribusi PT. Kimia Farma Tbk. per 31 Desember 2001.

Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) menilai kesalahan pencatatan dalam laporan keuangan PT. Kimia Farma Tbk. pada tahun buku 2001 dapat dikategorikan sebagai tindak pidana di pasar modal. Kesalahan pencatatan itu terkait dengan adanya rekayasa keuangan dan menimbulkan pernyataan yang menyesatkan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Bukti-bukti tersebut antara lain adalah kesalahan pencatatan yang dilakukan secara tidak sengaja maupun secara sengaja. Walau bagaimana pun, pelanggarannya tetap ada karena laporan keuangan tersebut telah digunakan investor untuk bertransaksi.

Contoh kasus manajemen laba di Indonesia berikutnya adalah kasus yang terjadi pada Bank Lippo Tbk. Salah satu bank peserta rekapitalisai itu memberikan laporan berbeda ke publik dan manajemen BEJ. Dalam laporan keuangan per 30 September 2002 yang disampaikan ke publik pada 28 November 2002 disebutkan total aktiva perseroan Rp 24 triliun dan laba bersih Rp 98 miliar. Namun dalam laporan ke BEJ pada 27 Desember 2002 total aktiva perusahaan berubah menjadi Rp 22,8 triliun rupiah (turun Rp 1,2 triliun) dan perusahaan merugi bersih Rp1,3 triliun.

Akibatnya pada keseluruhan neraca terjadi penurunan tingkat kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) dari 24,77 menjadi 4,23%. Namun beberapa pihak menduga perbedaan laporan keuangan terjadi karena ada manipulasi yang dilakukan manajemen. Dugaan itu beralasan karena agunan yang dijadikan aset berasal dari kelompok Lippo. Yakni, PT Bukit Sentul Tbk., PT Lippo Karawaci Tbk., PT Lippo Cikarang Tbk., PT Lippo Securities Tbk., PT Hotel Prapatan Tbk., dan PT Panin Insurance Tbk. Kasus laporan keuangan ganda yang dilakukan emiten itu jika tidak ditangani dengan baik akan berpotensi menurunkan kepercayaan publik, khususnya yang terlibat dalam bursa. Investor yang telanjur membeli saham Bank Lippo tentu sangat kecewa dan merasa dicurangi.

Untuk contoh kasus manajemen laba pada Perbankan Syariah, sejauh ini belum ada kasus besar yang merugikan banyak pihak. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Syahfandi (2012), digunakan indeks Eckel untuk mengetahui apakah Bank Syariah melakukan perataan laba atau tidak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 6 dari 9 Bank Syariah yang menjadi sampel penelitian, melakukan perataan laba (income smoothing). Hal ini menunjukkan bahwa Bank Syariah telah melakukan perataan laba untuk mengurangi tingkat perubahan laba bersih yang fluktuatif dalam periode pelaporannya, karena investor cenderung lebih menyukai laba yang relatif stabil.

Daftar Pustaka

Assih, P dan M. Gudono. 2000. Hubungan Tindakan Perataan Laba dengan Reaksi Pasar atas Pengumuman Informasi Laba Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. 3: 35-53.

Copeland, R.M. 1968. Income Smoothing. Journal of Accounting Research, Empirical Research in Accounting. 101-116.

Hamdi, Faouzi Mohamed dan Mohamed Ali Zarai. 2013. Perspectives of Earnings Management In Islamic Banking Institutions. International Journal of Business and Management Invention. 2: 26-38.

Healy,P.M. dan J.M. Wahlen. 1999. A Review of The Earnings Management Literature and Its Implications for Standard Setting, Accounting Horizons. 13: 365-383.

Healy, P.M. dan Krishna G. Palepu. 1993. The Effect of Firms’ Financial Disclosure Strategies on Stock Prices. Accounting Horizons. 7:1-11.

Pradipta, Arya. 2011. Analisis Pengaruh dari Mekanisme Corporate Governance terhadap Manjemen Laba. Jurnal Bisnis dan Akuntansi. 13: 93-106.

Utami, Wiwik. 2005. Pengaruh Manajemen Laba Terhadap Biaya Modal Ekuitas (Studi pada Perusahaan Publik Sektor Manufaktur). SNA  VII Solo 2005.

Wahyono, Erdianto Setyo; Wahidahwati; dan Agus Sunaryo. 2013. Pengaruh Corporate Governance pada Praktik Manajemen Laba: Studi Pada Industri Perbankan Indonesia. Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi. 1: 187- 206.

Xie, Biao; Wallace N. Davidson; dan Peter J. DaDalt. 2003. Earnings Management and Corporate Governance: The Role of The Board and The Audit Committee. Journal of Corporate Finance. 9: 295-316.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s