Penerapan Pengendalian Internal atas Kas pada Perusahaan di Indonesia

PENDAHULUAN

Kasus kecurangan dan ketidakjujuran dalam hal keuangan di dunia kerja akhir-akhir ini marak terjadi. Kecurangan tersebut bisa merugikan perusahaan, baik dalam jumlah besar maupun kecil. Kecurangan ini tidak bisa ditolerir karena efek yang ditimbulkan bisa sangat merugikan. Kecurangan atau penyelewengan keuangan ini bisa menyebabkan kebangkrutan jika terus menerus dilakukan tanpa adanya upaya pengendalian.

Aset yang paling rawan terjadinya kecurangan adalah kas, karena sifatnya yang mudah dipindahtangankan. Kas merupakan aset yang paling likuid sehingga berpengaruh terhadap operasional perusahaan. Karena sifatnya dan kerawanan terjadinya penyelewengan pada kas, sehingga sistem pengendalian internal harus diterapkan sebaik-baiknya.

Dalam makalah berjudul “Penerapan Pengendalian Internal atas Kas pada Perusahaan di Indonesia”, penulis memaparkan tentang hal-hal yang berkaitan dengan pengendalian internal. Makalah ini membahas tentang kecurangan yang terjadi pada keuangan di perusahaan, pengendalian internal, keterbatasan pengendalian internal, dan penerapan pengendalian internal pada perusahaan di Indonesia.

Tujuan penulis membuat makalah berkaitan dengan pengendalian internal adalah untuk menambah pengetahuan kita tentang sistem pengendalian internal. Selain itu juga untuk menilai sejauh mana sistem pengendalian internal diterapkan pada perusahaan di Indonesia. Dengan begitu, diharapkan kita mampu menganalisis bagaimana sistem pengendalian internal diterapkan.

Manfaat yang didapatkan dengan ditulisnya makalah ini agar kita dapat lebih memahami tentang sistem pengendalian internal dan juga penerapannya dalam operasional perusahaan. Dengan demikian pemahaman kita pada sistem pengendalian internal dan penerapannya pada perusahaan akan semakin meningkat. Selain itu, kita juga mampu menganalisis bagaimana penerapannya pada perusahaan di Indonesia.

Dengan ditulisnya makalah ini, diharapkan pengetahuan dan wawasan kita akan semakin bertambah luas, sehingga kita mampu berpikir kritis dalam menghadapi tantangan di masa mendatang. Di era globalisasi ini, kita dituntut untuk mampu mengikuti perkembangan jaman yang semakin pesat dengan berbagai kecanggihan teknologi yang ada. Sehingga, kita harus terus menambah wawasan dan pengetahuan kita serta menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari.

PEMBAHASAN

1. Kecurangan pada keuangan.

Kecurangan dan ketidakjujuran dalam keuangan di dunia kerja, terutama pada perusahaan di Indonesia, semakin marak terjadi. Hal ini jelas merugikan bagi perusahaan dan bukan tidak mungkin akan membawa perusahaan pada kebangkrutan. Sehingga, kecurangan yang terjadi di perusahaan harus diatasi atau lebih baik lagi jika dicegah sebelum terjadi.

Kecurangan dan penyalahgunaan keuangan dapat terjadi karena beberapa faktor. Terdapat tiga faktor yang paling sering menyebabkan terjadinya kecurangan dalam perusahaan. Faktor pertama adalah kesempatan. Karyawan bisa melakukan penyelewengan karena adanya kesempatan untuk memperoleh uang lebih banyak dari gaji atau upah yang diperoleh dari perusahaan. Kesempatan terjadi ketika kurangnya pengendalian di tempat kerja. Pengawasan terhadap karyawan yang kurang memberi kesempatan pada karyawan untuk berbuat curang karena mereka percaya perbuatannya tidak akan diketahui.

Faktor kedua yang menyebabkan terjadinya penyelewengan keuangan adalah tekanan keuangan yang dialami. Karyawan terkadang melakukan penyelewengan karena masalah keuangan yang disebabkan terlalu banyak memiliki utang. Selain itu, bisa juga disebabkan oleh gaya hidup yang berlebihan, sehingga gaji yang mereka terima tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dari gaya hidup yang mereka jalani.

Sedangkan faktor ketiga adalah penalaran yang masuk akal. Maksud dari penalaran yang masuk akal adalah karyawan berpikir masuk akal jika dia melakukan kecurangan karena merasa bahwa dia dibayar terlalu rendah sementara pemilik perusahaan memperoleh laba yang besar. Karyawan merasa benar dalam mencuri uang perusahaan karena percaya mereka berhak untuk dibayar lebih tinggi dari yang mereka terima.

Kecurangan paling mudah terjadi pada kas, karena sifat kas yang mudah dipindahtangankan, tidak mempunyai identitas kepemilikan, bentuknya kecil membuat kas menjadi aktiva yang paling rawan terhadap penyelewengan. Kas adalah aktiva yang paling likuid dan sangat mempengaruhi kelancaran kegiatan operasional perusahaan. Kekurangan kas dapat mengakibatkan terganggunya kegiatan operasional perusahaan, sedangkan kelebihan kas dapat menyebabkan ketidakefisienan bila kas berlebih tersebut tidak dapat dimanfaatkan untuk menunjang kegiatan perusahaan atau diinvestasikan ke sasaran yang tepat.

Kas merupakan hal yang penting dalam setiap transaksi perusahaan, untuk itu diperlukan suatu sistem yang mengatur penerimaan dan pengeluaran kas, sehingga setiap arus transaksi yang berhubungan dengan kas dapat dicatat dengan baik. Kas sebagai suatu alat pembayaran yang likuid harus dikelola dengan baik untuk menghindarkan penyalahgunaan atas kas tersebut. Sehingga perlu adanya pengendalian untuk mencegah bertambah luasnya kecurangan yang berdampak pada bertambah banyaknya kerugian yang akan dialami oleh perusahaan.
Pengendalian ini dikenal dengan pengendalian internal.

2. Sistem pengendalian internal
Sistem pengendalian internal merupakan suatu cara yang ditempuh perusahaan untuk mengendalikan usahanya yang meliputi struktur organisasi, cara-cara, metode serta alat-alat yang dikoordinasikan guna mencapai tujuan perusahaan Sistem Pengendalian Intern pada dasarnya bertujuan untuk menjaga kekayaan organisasi, mengecek ketelitian dan keandalan, mendorong efisiensi dan mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen.

Tujuan diadakannya pengendalian internal adalah:
1. Melindungi aset dari pencurian, perampokan, dan penyalahgunaan oleh karyawan.
2. Meningkatkan keakuratan dan kebenaran pencatatan akuntansi.
3. Meningkatkan efisiensi operasional.
4. Menjamin ketaatan terhadap hukum dan peraturan.

Sistem pengendalian internal memilki lima komponen utama, yaitu:
1. Lingkungan pengedalian.
Hal ini merupakan tanggung jawab dari manajemen puncak untuk menjelaskan bahwa perusahaan menghargai integritas dan perilaku yang tidak beretika tidak dapat ditoleransi.
2. Penilaian risiko.
Perusahaan harus mengidentifikasi dan menganalisa berbagai faktor yang dapat member risiko pada bisnis dan memutuskan bagaimana mengatasi risiko tersebut.
3. Aktivitas pengendalian.
Untuk mengurangi terjadinya kecurangan, manajemen harus merancang kebijakan dan prosedur untuk mengatasi risiko yang dihadapi perusahaan.
4. Informasi dan komunikasi.
Sistem pengendalian internl harus merangkap dan menginformasikan semua informasi yang berkaitan dengan perusahaan, sebagaimana menginformasikan kepada pidak luar.
5. Pengawasan.
Sistem pengendalian internal harus mengawasi secara berkala. Kekurangan yang signifikan harus dilaporkan kepada manajemen puncak atau dewan direktur.

Dalam menerapkan pengendalian internal, terdapat enam prinsip antara lain:
1. Pembentukan tanggung jawab.
Prinsip pengendalian internal yang mutlak adalah untuk memeberikan tanggung jawab kepada karyawan tertentu. Pengendalian lebih efektif jika hanya satu orang yng bertanggung jawab untuk tugas yang diberikan. Jika ada lebih dari satu yang diberi tanggung jawab, akan sulit menentukan siapa yang bertanggung jawab apabila terjadi kesalahan.
Prinsip pengendalian internal ini diterapkan dalam penerimaan kas dengan cara hanya orang yang ditunjuk yang mempunyai hak untuk menangani penerimaan kas (kasir). Sedangkan untuk pengeluaran kas adalah dengan cara hanya orang yang ditunjuk saja yang berwenang menandatangani cek (bendahara) dan menyetujuinya.
2.Pemisahan pekerjaan.
Terdapat dua penggunaan yang umum untuk prinsip ini, yaitu:
a. Individu yang berbeda harus bertanggung jawab untuk aktivitas terkait. Menyerahkan tanggung jawab pada satu orang untuk aktivitas terkait akan meningkatkan potensi terjadinya kesalahan dan penyelewengan.
b. Tanggung jawab untuk penyimpanan pencatatan sebuah aset harus dipisahkan dari penjagaan fisik aset tersebut. Penjagaan atas aset tidak mungkin untuk mengubah aset untuk penggunaan pribadi saat satu karyawan mempertahankan pencatatan aset, dan seorang karyawan telah menjaga fisik aset.
Penalaran dari prinsip ini adalah pekerjaan seorang karyawan harus, tanpa duplikasi usaha, menyediakan dasar yang dapat diandalkan untuk mengevaluasi pekerjaan karyawan lain.
Penerapannya prinsip pemisahan pekerjaan dalam penerimaan kas adalah dengan membedakan individu yang menerima kas, mencatat penerimaan kas, dan menyimpan kas tersebut. Untuk pengeluaran kas dengan cara membedakan individu yang menyetujui dan melakukan pembayaran, orang yang menandatangani cek tidak boleh mencatat pengeluaran.
3. Prosedur dokumentasi.
Perusahaan harus mendokumentasikan transaksi yang terjadi. Pertama, perusahaan harus menggunakan penomoran dokumen, dan semua dokumen harus dihitung. Penomoran mencegah transaksi dicatat lebih dari sekali atau bahkan tidak dicatat sama sekali. Kedua, sistem pengendalian mewajibkan karyawan segera menyampaikan sumber dokumen unuk penghitungan pembukuan kepada departemen penghitungan. Hal ini menjamin ketepatan waktu pencatatan transaksi untuk keakuratan dan kejujuran pencatatan akuntansi.
Penerapan prinsip prosedur dokumentasi dalam penerimaan kas adalah dengan menggunakan rekomendasi setoran (surat masuk), rekaman register kas, dan slip simpanan. Sedangkan untuk pengeluaran kas dengan menggunakan penomoran cek dan akun agar berurutan, setiap cek harus memiliki faktur persetujuan, mengharuskan karyawan menggunakan kartu kredit perusahaan untuk beban penggantian, mengecap faktur dengan cap “LUNAS”.
4. Pengendalian fisik, mekanik, dan elektronik.
Penggunaan prinsip ini adalah mutlak. Pengendalian fisik, mekanik dan elektronik bertujuan untuk mengamankan aset dan meningkatkan keakuratan dan kejujuran pencatatan akuntansi.
Penerapannya dalam penerimaan kas adalah dengan menyimpan kas di tempat yang aman dan brankas bank, membatasi akses ke tempat penyimpanan, dan menggunakan daftar kas. Sedangkan untuk pengeluaran kas dengan cara menyimpan blanko cek in tempat yang aman dengan akses yang terbatas dan mencetak jumlah cek dengan tinta permanen.
5. Verifikasi internal independen.
Prinsip ini melibatkan bahasan data yang disiapkan oleh karyawan. Untuk memproleh keuntungan maksimal dari prinsip ini adalah dengan cara:
a. Perusahaan harus memverifikasi pencatatan secara berkala.
b. Seorang karyawan yang mandiri bertanggung jawab secara pribadi untuk informasi harus membuat verifikasi.
c. Ketidaksesuaian dan pengecualian harus di laporkan kepada manajemen tingkat yang dapat mengambil langkah yang tepat.
Prinsip ini berguna untuk membandingkan pencatatan dengan aset yang ada. Perusahaan besar umumnya menugaskan auditor eksternal untuk melaksanakan prinsip ini. Penerapannya dalam penerimaan kas adalah pengawas menghitung penerimaan kas setiap hari, bendahara membandingkan total penerimaan dengan simpanan bank setiap hari. Sedangkan untuk pengeluaran kas adalah dengan membandingkan cek dan faktur serta merekonsiliasi laporan bank setiap bulan.
6. Pengendalian sumber daya manusia.
Pengendalian sumber daya manusia dalam penerapannya untuk penerimaan dan pengeluaran kas meliputi:
a. Menanggung karyawan yang menangani kas. Tanggungan melibatkan perolehan perlindungan asuransi terhadap pencurian oleh karyawan.
b. Menggilir tugas karyawan dan mewajibkan karyawan mengambil cuti. Hal ini untuk mencegah karyawan berupaya mencuri karena mereka tidak mungkin selamanya menyembunyikan tindakan kotor mereka.
c. Memeriksa latar belakang secara lengkap. Beberapa percaya bahwa takaran bisnis yang paling penting dan murah yang dapat diambil untuk mengurangi pencurian oleh karyawan dan penyelewengan adalah bagi departemen sumber daya manusia untuk memeriksa latar belakang secara lengkap.
3. Keterbatasan pengendalian internal.
Pengendalian internal pasti dirancang sebaik mungkin oleh perusahaan. Namun dalam praktiknya, pengendalian internal yang diterapkan perusahaan tidak bisa berhasil sempurna. Ada beberapa faktor yang membatasi keberhasilan penerapan pengendalian internal pada perusahaan. Terdapat tiga faktor yang paling sering membatasi keberhasilan penerapan pengendalian internal yaitu biaya yang dikeluarkan untuk menerapkan pengendalian internal tidak boleh melebihi manfaat yang diharapkan, faktor manusia, dan ukuran bisnis yang dijalankan.

Penerapan pengendalian internal membutuhkan dana yang tidak sedikit. Oleh karena itu, perusahaan berupaya agar biaya yang dikeluarkan untuk menerapkan pengendalian internal tidak melebihi manfaat yang diharapkan sehingga perusahaan tetap mendapatkan keuntungan, bukan malah mengalami kerugian.

Faktor manusia merupakan kendala yang paling sering dijumpai. Sifat manusia yang serakah dan kebutuhan yang semakin meningkat mendorongnya untuk memperoleh uang lebih banyak walau dengan cara-cara yang tidak dibenarkan. Sebaik apapun system yang diterapkan tidak akan efektif jika personilnya tidak menjalankannya dengan baik. Bisa juga terjadi kolusi antar karyawan yang dapat mengurangi efektivitas system yang diterapkan.

Ukuran bisnis yang dijalankan juga membatasi efektivitas pengendalian internal. Perusahaan kecil akan kesulitan memisahkan pekerjaan karena kekurangan karyawan atau untuk menyediakan verifikasi internal independen. Hal ini membuktikan bahwa tidak ada pengendalian internal yang sempurna.

Segala sesuatu di dunia ini pasti ada kekurangan dan kelebihannya. Tidak terkecuali dengan sistem pengendalian internal yang merupakan buatan manusia. Sistem ini tidak akan bisa dijalankan dengan baik jika individunya tidak peduli dan tidak mau melaksanakan aturan yang telah dibuat dan disepakati untuk kepentingan bersama.

Oleh karena itu, diperlukan adanya kesadaran dari masing-masing individu untuk menjalankan dan melaksanakan aturan yang berlaku agar tidak merugikan satu sama lain. Dengan menjalankan aturan tersebut dengan baik, maka sistem pengendalian internal yang sudah dirancang tidak akan sia-sia dan hasilnya dapat memuaskan bagi semua pihak.

Dengan adanya pengendalian internal yang memuaskan untuk kas, maka hal-hal yang merugikan perusahaan bisa dihindarkan atau sekurang-kurangnya dapat dibatasi seminimal mungkin. Selain itu, pengendalian juga perlu diterapkan agar semua individu dapat bekerja dengan jujur dan menghindari kecurangan dalam melaksanakan pekerjaan. Dengan begitu, perusahaan dapat terus beroperasi tanpa adanya gangguan berupa penyelewengan.

4. Penerapan pengendalian internal pada perusahaan.
Perusahaan di Indonesia sudah banyak yang menerapkan sistem pengendalian internal. Hal tersebut bertujuan untuk menghindari adanya kecurangan dan penyelewengan yang dilakukan oleh karyawan. Namun tidak seratus persen sistem pengendalian internal yang mereka terapkan dapat berfungsi sebagaimana yang diharapkan. Hal ini disebabkan karena tidak ada sistem yang benar-benar sempurna.

Dari hasil penelitian pada beberapa perusahaan di Indonesia yang penulis kutip dari berbagai sumber di internet, dapat dikatakan bahwa perusahaan di Indonesia telah cukup baik dalam menerapkan sistem pengendalian internal pada kas. Perusahaan di Indonesia menerapkan pengendalian internal pada perusahaannya sejak awal penerimaan karyawan. Saat sudah bekerja pun, karyawan tetap diawasi dengan ketat agar tidak mempunyai kesempatan berbuatan curang. Prinsip-prinsip yang ada pada pengendalian internal berusaha untuk dijalankan dengan baik agar hasil yang didapatkan bisa maksimal dan memuaskan bagi semua pihak.

Perusahaan di Indonesia berupaya untuk tetap konsisten dalam melaksanakan pengendalian internal terutama pada kas yang dianggap paling rawan untuk diselewengkan. Dengan adanya sistem pengendalian internal yang baik, perusahaan akan terhindar dari kecurangan yang dilakukan karyawan yang berpotensi merugikan perusahaan.

Hal ini jelas merupakan awal yang baik untuk dapat meningkatkan pengawasan dan pengendalian internal agar ke depannya perusahaan di Indonesia akan semakin berkembang. Dengan pengendalian internal yang baik, maka perusahaan dapat meminimalisasi kerugian karena penyelewengan oleh karyawan.

Dengan adanya kesadaran dari perusahaan di Indonesia yang cukup besar untuk menerapkan dengan baik sistem pengendalian internal, diharapkan ke depannya kecurangan dan penyalahgunaan wewenang atas kas dapat diminimalisasi sehingga perusahaan tidak akan mengalami kerugian yang bisa berdampak pada kebangkrutan perusahaan yang bersangkutan.

SIMPULAN

Kecurangan dan penyelewengan banyak terjadi pada perusahaan, terutama pada kas. Sehingga perlu adanya suatu sistem pengendalian internal untuk meminimalisasi kerugian yang akan terjadi. Dengan menerapkan komponen dan prinsip-prinsip pengendalian internal pada perusahaan, diharapkan kecurangan yang terjadi akan berkurang dan perusahaan terhindar dari kerugian dan kebangkrutan.

Sebagian besar perusahaan di Indonesia telah menerapkan pengendalian internal terutama pada kas yang merupakan aset yang paling rawan disalahgunakan. Perusahaan tersebut menerapkan pengendalian internal agar perusahaan tidak mengalami kerugian apalagi kebangkrutan karena kecurangan yang dilakukan oleh karyawan.

Perusahaan memulai penerapan pengendalian internal sejak saat menerima karyawan untuk bekerja pada perusahaan. Pada saat sudah menjadi karyawan pun, perusahaan mengawasi denga ketat aktivitas-aktivitas karyawan terutama yang berhubungan dengan kas peusahaan. Hal ini untuk mencegah terjadinya penyelewengan yang dapat merugikan perusahaan.

Penulis menyarankan kepada pemilik perusahaan khususnya perusahaan di Indonesia agar konsisten dalam menerapkan sistem pengendalian
internal terutama pada kas. Selain untuk menghindarkan perusahaan dari kemungkinan mengalami kerugian dan kebangkrutan, pengendalian internal juga perlu diterapkan agar dapat menciptakan individu-individu yang menjunjung tinggi kejujuran dalam mealaksanakan pekerjaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s