Bintang

Tak ada yang tahu apa yang dirasakannya. Dan tak ada seorang pun yang boleh tahu. Ia hanya duduk termenung di rumah pohon belakang rumahnya sambil mendekap buku kesayangannya. Dia hanya duduk dan terus mendekap bukunya dengan pandangan menerawang dan tak fokus. Dia terus memandang kosong taman yang dihiasi aneka bunga anggrek kesayangannya yang tak jelas karena tertutup selimut malam. Seolah-olah dia bisa melihat orang yang diharapkannya ada saat ini, sedang berdiri di taman itu sambil mengagumi keindahan bunga anggrek. Lalu sesekali ia mendongak memandang bintang, yang entah mengapa seolah memperhatikannya.

Kemudian, ia beringsut masuk ke dalam rumah pohon. Dalam rumah pohon itu, ia banyak menyimpan kenangan pahit dan manisnya masa kecil dan masa remajanya. Di dalamnya tertempel banyak fotonya dengan seorang gadis dan terdapat juga foto seorang cowok yang ia dapatkan dengan memotret secara diam-diam. Dia tak melepaskan foto-foto yang bisa membangkitkan ingatannya pada kejadian pahit masa lalu. Juga bisa membuatnya tersenyum jika teringat manisnya masa kecilnya dengan gadis yang ada di foto bersamanya.

Sesungguhnya, di lubuk hatinya yang terdalam, ia mengharapkan bisa berjumpa lagi dengan kedua orang yang telah membuat hidupnya berwarna dan bermakna. Kedua orang yang diharapkanya bisa hadir dalam acara wisudanya besok pagi. Tapi, sebagaimana manusia berharap, toh jika Tuhan tak mengijinkannya terjadi, tak kan ada yang bisa terjadi. Kedua orang itu tak akan pernah bisa menghadiri acara wisudanya, sekalipun hanya untuk melihatnya memegang toga. Kedua orang yang telah lama mengisi hatinya dengan perasaan bahagia, telah pergi untuk selamanya, tak kan pernah kembali lagi. Dia tak akan bisa melupakan, bahkan hanya satu episode, kenangan yang ia bangun bersama mereka.

Tak pernah ia merasa kehilangan yang sangat, kecuali ketika neneknya meninggal, seperti ini. Tak pernah ia mengharapkan peristiwa itu terjadi, bahkan dalam mimpi.
Kejadian bertahun-tahun lalu, seolah diputar lagi dalam kepalanya, seperti menonton film di bioskop. Hanya saja, peristiwa itu tak terjadi di layar lebar tetapi di dunia nyata. Dan pemain yang terlibat di dalamnya, tidak sedang berakting. Mereka meluapkan perasaan yang sedang mereka rasakan saat itu, tidak menunjukkan ekspresi yang disuruh oleh sutradara. Tak hanya ada satu sutradara di dalamnya, tetapi setiap orang itulah sutradara bagi diri mereka sendiri. Mereka yang menentukan jalan ceritanya. Bisa dibayangkan, banyak sutradara yang terlibat di dalamnya. Tapi tetap Tuhan yang menjadikan segalanya terjadi. Sutradara yang banyak itu, hanya bisa menjalaninya saja.

Vloriela Marylin, itulah nama gadis yang ada di foto bersamanya. Ia biasa memanggilnya Ory. Ory adalah teman pertamanya pada saat dia pertama kali masuk Taman Kanak-kanak. Ibu Guru Olyn yang memperkenalkan mereka. Bu Olyn memperkenalkan mereka karena beliau adalah ibu Ory.

“Lanna, Mary kurang pandai bergaul. Tolong kau ajak dia berkenalan dengan teman lain. Ibu bisa percayakan Mary padamu,” begitulah kata beliau padanya. Ia masih ingat dengan jelas.

“Nama kamu Mary?” tanyanya pada gadis kecil berambut ikal di depannya, ketika Bu Olyn sedang melerai anak yang sedang berkelahi di depan pintu kelas.

“Ya, Vloriela Marylin. Keluargaku biasa memanggil Mary. Kau boleh memanggilku dengan nama yang kau suka, asal jangan menyimpang dari namaku,” kata Mary padanya. “Dan siapa namamu? Aku tadi mendengar ibu memanggilmu Lanna,” tanya Mary padanya.

“Ya, namaku Clavaria Lianna. Tapi keluargaku memanggilku Lanna. Dan kusarankan kau juga memanggilku begitu. Aku tak suka dipanggil Ria, Lia, ataupun Anna. Nama itu sudah terlalu sering kudengar. Kalau begitu, bagaimana kalau kau kupanggil Lama?” tanya Lanna pada gadis ikal yang langsung melongo karena ia menyarankan nama panggilan yang aneh.

“Lama? Bagaimana bisa kau panggil aku Lama? Tak ada sangkut pautnya dengan namaku,” protes gadis itu dengan nada tersinggung.

“Hehe, aku hanya bercanda, jangan tersinggung. Tapi kalau namamu dipenggal persuku kata akan kau temukan kata Lama,” saran Lanna pada gadis itu sehingga ia bingung dibuatnya.

“Vlo-ri-e-la-ma-ry-lin. Hey, memang ada kata Lama, tapi jangan panggil aku begitu,” katanya dengan wajah memerah.

“Lho, katanya aku boleh memanggilmu apa saja, asal tak menyimpang dari namamu. Baiklah,” kata Lanna ketika melihat wajah gadis itu merah padam,”akan kupanggil kau Ory, bagaimana?”

“Baiklah, Lanna dan Ory. Kita buat perjanjian seumur hidup, kita sahabat yang tak akan terpisahkan kecuali oleh maut yang akan menghadang kapan saja. Deal?” kata Ory dengan tegas. Lanna tak tahu dari mana Ory tahu kata “Deal”.

“Kau tahu arti kata “Deal”?” tanya Lanna pada Ory.

“Entahlah, orang Barat sering mengatakan kata itu ketika membuat perjanjian, begitu kata Ayah,” kata Ory dengan wajah polos.

“Okey, Deal,” Lanna menyetujui perjanjian konyol ini, tanpa mengetahui bahwa perjanjian ini sangat bermanfaat kelak.

Dan tahun–tahun bergulir bagai roda yang berputar dengan cepat dan bagai bumi yang setia mengitari matahari. Semuanya terjadi tanpa bisa dicegah, hingga mereka memasuki SD, SMP, hingga SMA. Telah mereka ukir kenangan indah dan juga menorehkan luka dalam sejarah kehidupan mereka selama mereka bersama. Walau sifat mereka berbeda jauh, tapi hobi mereka sama. Sama-sama senang membaca. Ory pendiam, feminine, lemah lembut dalam bertutur kata dan lebih suka menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Berbeda jauh dengan Lanna. Lanna anak yang tak bisa diam, susah diatur, tomboy, suka ngomong seenaknya, dan senang berkelahi, bahkan dengan anak lelaki.

Dan tentang rumah pohon penuh kenangan itu, mereka yang merancangnya. Rumah pohon itu, hadiah ulang tahun untuk Lanna yang ke-9. Sebelum rumah pohon yang sekarang ada itu, Lanna dan Ory pernah mencoba membuatnya sendiri. Tapi karena umur mereka waktu itu baru 8 tahun, tak mungkin mereka bisa membangun sendiri rumah pohon yang berada di pohon mangga setinggi 4 m. Pernah ketika mereka mencoba membangunnya, Ory yang feminine menangis karena tak bisa memanjat seperti Lanna yang sudah terbiasa. Kemudian gantian Lanna yang menangis karena sangat susah mengajari Ory memanjat. Jadilah mereka berdua menangis berjamaah.

Karena kasihan kalau harus membangun sendiri tempat pribadi mereka, Ayah dan Bunda Lanna membangun rumah pohon bagi mereka sebagai hadiah ulang tahun Lanna. Selama rumah pohon itu dibangun, sebisa mungkin orang tua Lanna tak mengizinkan mereka memasuki taman belakang, karena mereka ingin membuat kejutan. Esok paginya, Lanna tak ingat sama sekali bahwa ia berulang tahun. Dia berangkat sekolah seperti biasa. Tapi di sekolah, sikap Ory yang tak biasa. Ory seolah menghindari Lanna, tak mau duduk sebangku dan langsung melesat pergi ketika Lanna menghampirinya.

Ketika pulang sekolah, Lanna yang tak tahu aturan, mencegat Ory di pintu gerbang ketika sekolah sudah sepi. Ory baru pulang dari perpustakaan setelah petugasnya menakut-nakuti Ory kalau ada penunggu di perpustakaan, hanya untuk mengusir satu-satunya murid yang bersedia mengunjungi perpustakaan sementara yang lain memilih bermain Play Station. Ory tak mau pulang, sementara sang petugas sudah lelah menyortir buku yang baru datang. Dengan jurus terakhir dan terampuh, beliau menakuti Ory yang memang dasar penakut.

“Ory, aku mau tanya. Salah aku apa sih, sampai kamu nggak mau ngomong satu katapun ke aku?” tanya Lanna tiba-tiba ketika Ory sampai di gerbang.

Ory hanya diam dan meneruskan perjalanannya. Lanna mencekal tangannya. Ory mengalah, karena tak ada gunanya melawan anak perempuan yang memiliki tenaga gorilla.

“Ayo jawab! Kenapa kamu malah pergi,” tantang Lanna.

“Kamu mau tahu salah kamu apa?” tanya Ory tenang. Lanna menganguk cepat. “Salah kamu, ulang tahun kok nggak ngajak makan-makan. Jahat banget tahu nggak sih,” kata Ory sambil tertawa dan menyemprot Lanna dengan pistol air yang sudah ia sediakan.

“Ory….! Awas kamu ya!” ancam Lanna. Dan mereka berdua pulang bersama dengan senyum mengembang dan lebih mengembang lagi ketika tahu bahwa rumah pohon impian mereka sudah jadi. Kemudian senyum mereka jauh lebih mengembang lagi ketika orangtua Lanna mengajak mereka makan malam di rumah makan seafood favorite mereka, “Segara”.

Sifat mereka sama sekali tak berubah sampai mereka duduk di bangku SMP. Tapi waktu berubah, dan Lanna pun ikut berubah. Kata orang, masa SMA adalah masa yang tak kan pernah terlupakan. Walau ada juga yang mengangap masa SMA adalah masa yang menyebalkan. Tapi, bagi Ory dan Lanna pendapat orang banyak itu ada benarnya. Pada masa itu, waktu bisa mengubah seorang Lanna yang tak tahu sopan santun, menjadi jarang berbuat onar dan bersikap seperti seorang Lady. Dan kejadian yang seumur hidup tak kan Lanna lupakan, adalah pertemuannya dengan seseorang. Adya Bintang Angkasa. Nama yang hingga kini tak hanya terukir, tapi terpahat jelas di hatinya. Bintang, dan dia benar-benar bercahaya seperti bintang di hati Lanna.

Lanna bertemu Bintang pertama kali saat penerimaan siswa baru di SMA. Saat itu, ia sedang ke kamar kecil. Ketika tiba di tikungan, tiba-tiba ada yang menabraknya. Adya Bintang A. Nama itu yang tertera di seragam cowok yang menabraknya. Lanna memandang wajah si penabrak, dan terpesona. Selama sepersekian detik mereka berpandangan, kemudian Lanna menunduk malu. Ia meminta maaf dan membantu calon kakak kelasnya itu memunguti barang yang jatuh dan segera pergi. Ketika ia bercerita pada Ory, Ory hanya tertawa dan anehnya tak tampak penasaran.

Suatu hari, ketika ia duduk di kursi pojok kelas dekat jendela yang langsung berhadapan dengan kantin, Lanna menumpahkan isi hatinya ke dalam sebuah puisi. Saat itu sedang pelajaran Geografi tentang teori terbentuknya tata surya. Sebenarnya, Lanna suka hal yang berhubungan dengan astronomi, tapi gurunya sama sekali tak mendukung. Gurunya sangat sensitive, galak, suka ngatur, nggak professional, nyebelin, etc. Lanna punya dendam pribadi sebab sang guru pernah mengurangi nilai ulangan Lanna hanya karena ia mengatakan “Alhamdulillah” ketika bel tanda pelajaran usai berbunyi. Jadilah pelajaran hanya dianggap angin lalu olehnya.

Laksana langit malam yang kelam
Terhampar berjuta kemilau cahaya
Siapa gerangan yang meneranginya
Menciptakan kerlip indah di angkasa
Ialah bintang yang bertahta
Berkilauan di luasnya malam
Serupa berlian terindah di alam
Yang tak terhingga nilai rupa

“Uhmm…apa lagi ya?” pikir Lanna sambil menatap papan tulis dan melihat tulisan “BINTANG”. Langsung ia menyimak pelajaran sang guru.
“Ada 5 tingkatan bintang. Bintang paling terang adalah bintang putih. Setelah itu bintang putih akan berubah menjadi biru, oranye, merah, lalu hitam atau disebut bintang mati. Setelah itu, bintang pecah dan akan berubah warna lagi menjadi putih dan seterusnya,” terang sang guru. Ory terkikik saat kata bintang disebut. Tiba-tiba Lanna mendapatkan ilham.

Adalah bintang yang bersinar putih
Mengubah raga bersalin biru
Tak lama lagi bergemilang jingga
Memerah lalu menghitam dan mati
Namun tak kan lama lagi
Ia akan bersinar kembali
Menerangi hati yang sunyi
Berkilauan di ujung mimpi

Lanna menoleh ke arah pintu dan mendapati orang yang sedang dipikirkannya tengah berjalan cepat dan terlihat jelas merasa terganggu diikuti oleh nenek sihir centil bernama Qomariyah, yang seringnya dipanggil Magic Qom, karena dandanannya yang ajaib. Kalau saja tak ada larangan memakai sepatu selain hitam, dandanannya akan semakin ajaib. Bayangkan, dari ujung kaki sampai kepala, ataupun sebaliknya, semuanya full colour. Masih mending kalau warnanya matching. Tapi mungkin menurut Magic Qom, semua warna itu matching. Rambutnya dikuncir dua dengan pita berbeda warna, yang satu pink, satunya lagi ijo ngejreng. Seragamnya dilapisi sweater warna biru tua dengan motif polkadot warna-warni. Anting-anting yang dipakainya super gede dengan warna kuning keemasan. Dia memakai gelang warna-warni mulai dari merah, orange, dan ungu. Persis anak baru yang dipaksa memakai properti aneh-aneh saat MOS. Lanna terkikik geli dengan dandanan aneh kakak kelasnya, yang sekarang setelah bersekolah 5 bulan di SMA pun tetap menjadi hal yang aneh walau dandanannya setipe dengan itu setiap harinya. Kemudian ia meneruskan lagi menulis puisinya.

Kini ku hanya bisa berharap
Dan hati kecilku menatap
Akankah ia terangi tidurku yang lelap
Di malam yang sepi dan gelap

“Clavaria Lianna, apa yang sedang anda kerjakan?” tanya guru goegrafi yang sekarang sudah berdiri di tepi mejanya dan Ory.

“Waduh, gawat ketahuan. Gimana nih kalau nilaiku dikurangi lagi?” batin Lanna merana.

“Oh, anda sedang membuat puisi. Boleh saya lihat?” pertanyaan retoris, tanpa minta izin pun beliau pasti tetap akan mengambil puisi itu. Lanna pasrah dengan apapun yang akan terjadi. Sang guru membaca puisi Lanna dengan cermat. Ory memandang Lanna dengan cemas. Kemudian sang guru mengembalikan puisi Lanna dengan mata berkaca-kaca.

“Oh, puisi yang indah. Ternyata anda memperhatikan pelajaran saya. Saya sungguh sangat terharu. Apalagi anda juga menulis puisi tentang pelajaran saya. Baiklah,” teeet…teeet… bel pulang berbunyi. ”Sebagai PR, anda sekalian buat puisi tentang pelajaran yang tadi saya ajarkan,” teriak pak guru di sela keributan siswa yang sedang berkemas-kemas dan mengeluhkan PR yang menggunung.

Sepulang sekolah, Lanna bergegas karena ingin cepat sampai di rumah karena ingat janji Bundanya.

“Nanti malam, untuk merayakan ulang tahun Ayah, kita makan malam di rumah makan “Segara”. Sekalian kamu ajak Ory juga ya,” pesan Bundanya.

Tapi Ory menolak ajakannya karena ia ada janji dengan seseorang, entah siapa gerangan. Setahu Lanna, Ory tak pernah bercerita ia dekat dengan seseorang. Entahlah. Saat Lanna akan menyambangi pintu kelas, ia dihadang teman-temannya yang protes diberi PR tak masuk akal itu dan menyalahkannya. Dia minta maaf dan bergegas mencari celah untuk keluar dari kelas. Setelah berhasil menghindar dari serbuan teman-temannya, Lanna bergegas angkat kaki dari sekolah. Namun langkahnya terhenti ketika melihat Bintang yang sedang duduk-duduk di teras laboratorium Fisika tersenyum ke arahnya. Entah ia tersenyum pada siapa, tapi perasaan Lanna melambung karena satu senyuman itu. Lanna bergegas dan segera saja bayangan seafood kesukaannya terhampar di otaknya. Setelah sampai di rumah, Bunda menyambut Lanna dengan riang. Tetapi Bunda terpaksa membatalkan janjinya akan mengajak makan malam di “Segara”.

“Memangnya kenapa Bunda?” tanya Lanna terdengar sedikit kecewa.

“Ayah lagi malas makan seafood katanya. Kata Ayah kamu boleh milih makan di restoran mana aja asal menunya bukan seafood,” kata Bunda menenangkan.

“Ya udah deh. Aku lagi pengin coba restoran baru yang dekat kantor Ayah itu. Katanya disana makanannya enak. Kalau kesana Ayah mau nggak?” tanya Lanna pada Ayah yang sedang asyik membaca majalah remaja milik Lanna.

“Ya boleh deh. Nanti kita berangkat kesana waktu jam makan malam,” janji Ayah.

Selepas petang, Lanna bersiap. Hanya perlu waktu tak sampai 5
menit, Lanna sudah siap. Baginya penampilan tak terlalu penting, yang penting perutnya kenyang. Ketika sampai di restoran yang baru berumur 1 minggu ini, mereka segera memasuki restoran diiringi alunan musik jazz. Mereka lalu menempati kursi kosong yang langsung menghadap kolam. Seorang pramusaji (yang belakangan diketahui bernama Joko, karena ada label nama di kemejanya, seperti anak sekolah saja, pikir Lanna) mendekat. Ia segera menyodorkan daftar menu. Dan semua menu yang disajikan berasal dari beras. Lanna memesan Nasi Kabuli, sementara Ayah dan Bunda memesan menu yang sama, Nasi Goreng Spesial. Entah apa spesialnya nasi goreng di sini, toh sama-sama digoreng. Ketika mereka sedang asyik menyantap santapan masing-masing, Lanna tersentak dan nasi yang baru setengah jalan menuju kerongkongan, salah jalan dan melalui tenggorokan. Lanna terbatuk dengan mata tak lepas memandang dua orang yang baru saja memasuki restoran.

Jadi ini alasan Ory menolak ajakannya. Ternyata seseorang yang ia maksud adalah seseorang yang telah lama singgah di hati teman sebangkunya. Lanna belum pernah merasa terkhianati sesakit ini sebelumnya. Ia seperti kehilangan nafsu makan, beruntung nasi yang tadi nyangkut di tenggorokan adalah suapan terakhir. Sambil menyeruput jus alpukatnya, matanya tak henti-hentinya memandang dua orang yang, semula sangat disayanginya, sedang bercerita seru sambil tertawa lepas tanpa beban. Tak menghiraukan sepasang mata yang sedari tadi ingin mencurahkan hujan. Setelah semua makanan ludes, mereka meninggalkan restoran dengan terlebih dulu membayar makanan yang telah mereka santap. Sepanjang perjalanan, Lanna memikirkan kenapa Ory tega mengkhianatinya. Wajahnya murung. Ory tak pernah sekalipun menunjukkan ketertarikannya pada Bintang, bahkan ia bersikap acuh tak acuh ketika Lanna membicarakan Bintang dengan antusias. Ia tak bisa membayangkan harus berwajah bagaimana jika bertemu Ory besok.

“Kamu kenapa, Sayang? Makanannya nggak enak, ya? Lain kali kita makan di restoran langganan kita saja deh,” Bunda yang cemas melihat perubahan raut wajah Lanna menyimpulkan putri semata wayangnya tidak suka dengan makanannya, walaupun menyantapnya sampai suapan terakhir.

“Bukan kok, Bunda. Makanannya enak kok,” jawab Lanna jujur.

“Oh, ya sudah,” Bunda memutuskan untuk percaya. “Oh ya, lain kali kamu ajak Ory makan disitu ya? Sayang tadi dia nggak bisa ikut,” tawar Bunda. Lanna tersentak mendengar nama Ory disebut, tapi berusaha bersikap biasa saja seperti tak ada masalah apa-apa.

“Ya, kalau ada waktu. Lagipula dia sudah pernah kesana kok, Bunda,” jawab Lanna lirih.

“Oh ya? Makanya kamu pengin coba makan disana ya?” tebak Bunda yang dijawab Lanna dengan anggukan dan senyum sekilas.

Jawaban atas pertanyaannya semalam, benar-benar di luar dugaan. Ory menyambut Lanna dengan Bintang yang tersenyum disampingnya. Lanna tak tahu kenapa mereka menyambutnya. Mungkin mau memberitahu kalau mereka sudah jadian semalam, pikirnya. Kalau saja dia tidak ada di TKP semalam, mungkin ia akan dengan senang hati menyambut Bintang yang tersenyum. Tapi ceritanya berubah karena kejadian semalam. Andai saja Ayah mau makan di restoran “Segara”, pasti sekarang ia sedang asyik mengobrol dengan Bintang. Andai saja Bunda menepati janjinya, dan andai saja ia berhasil membujuk Ayah makan di restoran “Segara”, dan pada akhirnya akan berujung pada “Andai saja aku tak ada di muka bumi ini”. mau bagaimanapun juga, semuanya telah terjadi,dan kita hanya bisa membiarkannya berlalu.
Karena tak tahu harus berbuat apa, Lanna menerobos masuk tanpa mempedulikan kedua orang yang membuatnya menangis semalam. Ory yang tak tahu menahu tentang sikap Lanna, menyusul Lanna masuk ke dalam kelas. Karena semua bangku telah terisi, Lanna yang semula bermaksud menghindari Ory, terpaksa mengambil tempat duduk di sebelah Ory.

Selama berada di sekolah hingga pulang, Lanna sama sekali tak berbicara pada Ory, membuat Ory semakin bingung. Sempat terlintas di benak Ory, Lanna melihatnya makan bersama Bintang tadi malam. Tapi segera disingkirkan karena yang ia tahu Lanna sekeluarga makan malam di restoran “Segara”. Hingga sepulang sekolah, di taman belakang yang sepi, Lanna mengeluarkan semua unek-uneknya.

“Apa ini yang namanya sahabat? Apa gunanya kita dulu ngucapin kata “deal” yang dulu kita nggak tahu artinya? Kamu itu benar-benar tebal ya mukanya. Nggak ngerasa apa kalau kamu tuh udah nusuk temen sendiri dari belakang, masih pura-pura nggak tahu lagi. Denger ya Ry, kamu tuh kaya serigala berbulu domba tahu, dasar musuh dalam selimut, pagar makan tanaman!” jerit Lanna mengeluarkan seluruh isi hatinya yang remuk redam dalam semalam. Kemudian ia berlari pulang. Ternyata dugaan Ory benar, Lanna melihatnya bersama Bintang semalam.

“Kenapa sih kamu nggak pernah bilang kalau ternyata dia juga suka sama aku? Jadi kan, aku nggak usah merasa terlalu banyak berharap,” tuntut Bintang semalam, setelah Ory menceritakan tentang perasaan Lanna.

“Bukannya begitu, aku nggak mau kalau ternyata kamu atau Lanna cuma main-main. Ternyata, yah gitu. Tapi sekarang aku dah yakin. Besok kamu tinggal ngomong aja sama dia,” saran Ory.

“Uhm…Oke deh. By the way, kamu dah ngomong belum sama dia kalau…,” kata-kata Bintang terputus.

“Belum. Tenang aja. Aku simpan rapat-rapat kok rahasia kalian berdua,” kata Ory.

Bayangan tentang kejadian semalam kembali menggenang. Dia mencoba mengingat-ingat apakah ia melihat Lanna semalam. Dan ia menyadari kebodohannya, ketika ingat ia melihat mobil ayah Lanna semalam. Segera Ory pergi menemui Bintang, takut masalah bertambah runyam hanya karena kesalahpahaman. Ketika melihat Bintang sedang berjalan menuju lapangan parkir sendirian, Ory segera menariknya.

“Gawat. Lanna salah paham. Kemarin malam ternyata Lanna dan keluarganya makan malam di tempat yang sama dengan kita. Pokoknya sekarang kita harus ke rumah Lanna meluruskan masalahnya. Ayo cepat,” ajak Ory.

Mereka bergegas menuju rumah Lanna dengan motor Bintang. Ory ingin cepat-cepat memberitahu Lanna apa yang sesungguhnya terjadi. Dia ingin mengatakan diantara dia dan Bintang tak ada hubungan apa-apa selain saudara sepupu. Tapi keinginan Ory hanya tinggal sebatas harapan. Mereka berdua tak pernah sampai ke rumah Lanna. Dan perasaan Bintang yang sesungguhnya pada Lanna, tak pernah terungkapkan. Begitu pula mimpi Bintang, ingin mendengar sendiri dari Lanna, perasaan Lanna yang sesungguhnya padanya, bukan dari Ory, sepupunya. Mimpi yang tak pernah terwujud hanya karena sebuah mobil box yang dikendarai oleh sopirnya yang sedang mabuk. Mereka kini tinggal kenangan, meninggalkan luka dan penyesalan di hati Lanna karena kesalahpahamannya.

Dia mendesah, kembali ke masa lalu adalah hal bodoh seumpama menggergaji serbuk kayu. Hidup yang seharusnya dijalaninya sekarang bukan hanya menyesali masa lalu, tapi meneruskan hidup untuk menggapai mimpi-mimpi. Kembali ia memandangi foto yang tertempel di dinding itu. Kemudian ia keluar dari rumah pohon, dengan sejenak kembali memandang bintang yang berkedip di angkasa. Dia tersenyum, menapaki satu persatu anak tangga. Setelah kejadian itu, ia merasa bersalah telah mengatakan kata-kata yang sangat kasar pada Ory, apalagi setelah dengan penuh kehormatan boleh memiliki buku harian Ory. Di dalamnya terselip sepucuk surat. Surat dari Bintang, untuk Lanna. Surat itu ditahan Ory, karena Ory tak mau kalau Bintang hanya mempermainkan Lanna. Ory terlalu menyayangi Lanna.

Dia berjalan memasuki rumahnya, mendengar sepupunya yang berusia 5 tahun menyanyikan lagu Bintang Kecil. Ketika melewati kamar yang dipakai kakak sepupunya yang sebaya dengannya, terdengar alunan lagu Aku dan Bintang. Dia tersenyum penuh arti, merasa beruntung mengenal Bintang, walau tak sempat terucap perasaannya. Dia mendekati sepupunya yang berusia 5 tahun, dan bersama-sama menyanyikan lagu Bintang Kecil. Ada satu hal lagi yang ia inginkan sekarang, bukan menginginkan Ory dan Bintang kembali lagi. Tapi yang ia inginkan adalah, mereka tahu dan mengerti bahwa ia menyayangi mereka. Ya, andai mereka tahu hal itu.

-The End-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s