Resensi Buku – Negeri Lima Menara

 


Judul Buku :Negeri 5 Menara

Penulis        : Ahmad Fuadi

Penerbit       : Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit   : 2009

Tebal buku     : 420 halaman

Warna cover    : Coklat

Harga buku     : Rp 50.000,00

Novel yang terinspirasi dari kisah nyata penulis ini bercerita tentang kehidupan Alif selama belajar di Pondok Madani yang terletak di pelosokkotaPonorogo, Jawa Timur. Pengalaman belajar di Pondok Madani diawali dengan keputusan setengah hati Alif yang menolak meneruskan pendidikannya di sekolah agama di kotanya. Impiannya untuk bisa meneruskan sekolah di SMA terbaik dikotaBukittinggi tak mendapat restu dari Amaknya yang menghendaki Alif sekolah di sekolah agama. Alasannya selama ini seorang anak belajar di sekolah agama karena tidak diterima di sekolah umum. Amak berpikir, bagaimana agama Islam bisa maju kalau yang bersekolah di sekolah agama justru anak buangan yang tidak diterima di sekolah umum.

Diceritakan dengan bahasa yang kocak, alur cerita yang tidak membosankan dan menghibur. Selama membaca novel ini kita tidak hanya terhibur dengan pengalaman Alif yang lucu, memalukan, dan menegangkan. Tapi kita juga dapat belajar tentang arti keikhlasan seperti yang dicontohkan oleh para guru, dan bagaimana mewujudkan impian menjadi kenyataan.

 

Selama menerima pendidikan di Pondok Madani, perlahan-lahan Alif mulai mantap mendalami agama. Walau terkadang suratdari Randai, sahabatnya di Bukittinggi, sedikit menggoyahkan hatinya. Bersama para sahibul menara yaitu Atang, Raja, Baso, Said, dan Dulmajid, serta teman-teman yang lain, Alif menerima ilmu dengan hati ikhlas dan diajar oleh guru-guru yang juga ikhlas mengajar. Mantra sakti man jadda wa jadda telah melecutkan semangatnya untuk memperdalam ilmu agama. Bahkan ujian-ujian berat dan sulit yang harus dihadapi di Pondok Madani, tidak meruntuhkan niatnya untuk membuat Amak bangga padanya. Kehadiran Sarah, yang menjadi bunga bibir di antara para santri, membuat kehidupannya di Pondok Madani lebih berwarna. Walau hanya dapat melihat wajahnya sekilas karena Sarah jarang keluar rumah, Alif sudah merasa senang. Namun suatu hari agaknya nasib berbaik hati pada Alif, ia berkesempatan berfoto dengan Sarah dan memenangkan taruhan semangkuk makrunah dari Raja selama sebulan.

 

Suatu hari, Baso menceritakan rahasia yang ia simpan rapat selama ini kepada mereka. Ia mengeluarkan semua keluh kesahnya pada para sahibul menara di bawah menara masjid tempat mereka biasa mereka-reka bentuk awan menjadi tempat impian mereka dan menceritakan mimpi-mimpi yang ingin mereka raih. Hingga akhirnya Baso memutuskan keluar dari pondok dan mengejar mimpinya yang lain, ingin menghapalkan Al-Qur’an sembari merawat neneknya yang sakit tua. Keputusan Baso untuk keluar membangkitkan penyakit lama Alif, padahal sekolah di Pondok Madani tinggal beberapa bulan lagi. Ayahnya terpaksa turun tangan, dan meyakinkan Alif untuk bertahan hingga lulus. Alif menurut dan menyelesaikan pendidikannya di pondok.

 

Membaca novel ini membuat kita menyadari kekuatan impian. Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apa pun. Tuhan sungguh Maha Mendengar. Kita hanya perlu meyakini impian tersebut dan bekerja keras untuk mewujudkannya. Novel ini begitu menginspirasi bagi pembacanya tentang kesungguhan, keikhlasan, serta persahabatan. Selamat membaca dan menemukan banyak hal positif dalam Negeri 5 Menara.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s